Tulisan @fahmihasannn Tentang Tata Kelola Prestasi Sepak Bola

Bagikan Berita Ini

Beberapa waktu terakhir dunia sepak bola kita diraimaikan dengan pemberitaan dari vietnam bahwa Tim Nasional kelompok umur 16 tahun berhasil menjadi yang terbaik setelah menyingkirkan  Myanmar, Taiwan dan tuan rumah Vietnam. Hal ini tentu menjadi kebanggaan bagi rakyat Indonesia, bagaimana tidak, kelompok usia dini kita berhasil menjadi yang terbaik di kompetisi internasional dan tentu harapannya akan terus berlanjut ketika mereka memasuki kelompok umur yang selajutnya hingga mereka termasuk ke kelompok senior, dengan bermodal pengalaman juara di ajang internasional sejak dini wajar jika ekspektasi warga seperti itu. Namun, ingatkah kita dengan euforia yang kita rasakan ketika pada tahun 2013 Tim Nasional U-19 asuhan Indra Sjafri berhasil menjuarai AFF U-19? Harapan yang sama kala itu dirasakan masyarakat pecinta sepak bola nasional, namun lagi-lagi kemana prestasi mereka di kelompok umur setelah itu?

Jenjang kompetisi internasional terdekat untuk kelompok umur mereka pada saat itu tentu Sea Games 2015, namun sayangnya mereka dianggal gagal setelah tidak membawa pulang satu medalipun  ke tanah air, mereka kalah oleh Thailand, negara yang pada saat 2013 tidak bisa berbuat banyak. Ketika ditelusuri rahasia keberhasilan Thailand bukan hanya karena persiapan Tim Nasional mereka yang lebih lama, namun kuncinya ada pada kompetisi di kelompok umur, mereka memiliki kompetisi untuk kelompok umur 19 tahun, setidaknya itu sangat membantu mengembangkan permainan atlet dan membantu tim pelatih untuk menemukan pemain yang dibutuhkan.

Menang Telak 11- 0, Timnas U16 Juara Tien Phong Plastic Cup2

Menang Telak 11- 0, Timnas U16 Juara Tien Phong Plastic Cup2

Setelah harapan masyarakat kembali tinggi di kelompok umur 16 tahun yang berhasil menjadi juara, penampilan Tim Nasional kelompok umur 19 tahun sangat memukau. Mereka berhasil membuat Tim Nasional Brasil kocar kacir melalui permainan indah saat mengikuti Turnamen Toulon Perancis, turnamen tersebut tentu bukanlah turnamen sembarangan. Banyak pemain kelas dunia lahir dari turnamen tersebut, sebut saja Zidane dan Ronaldo sebagai contohnya. Meski tidak dapat menjadi yang terbaik, salah satu pemain Indonesia berhasil menjadi sorotan media asing, yaitu Egy Maulana yang berhasil terpilih mendapatkan Jouer Revelation Trohpee, tropi yang bergensi yang berhasil didapatkan oleh para pemain kelas dunia hingga kini.

Dari paparan diatas, tentu prestasi yang hebat dicatat oleh para atlet sepak bola kita di kelompok umur tersebut, dan tentu hal ini bukanlah yang pertama hal tesebut terjadi di kelompok umur. Lalu mengapa di tingkat senior prestasi sepak bola kita bisa dibilang kurang segemilang prestasi di kelompok umur? ada beberapa faktor yang membuat hal tersebut terjadi. Yang paling penting tentu kompetisi yang berjenjang di berbagai kelompok umur, kompetisi yang berjenjang tentu akan mengakomodasi atlet terus berkembang dari setiap kelompok umur, dan yang terpenting semakin berkualitas kompetisi tersebut maka semakin berkualitas pula Tim Nasional nya, karena pemain lahir dari kompetisi. Jika selama ini Timnas kelompok umur kita mencari pemain tidak dari kompetisi tetapi dari seleksi terbuka yang dilakukan ke berbagai daerah. Kemudian yang kedua, tahapan tata kelola target prestasi yang jelas harus dimiliki Tim Nasional, seperti teori Long Term Athlete Develompent yang diterapkan oleh sang juara dunia Jerman, teori tersebut membagi target capaian di berbagai kelompok umur, sebagai berikut:

  1. FUNdamental (usia 6-9 tahun)

Dimana para siswa difokuskan kepada banyak bergerak dan menyenangi dunia sepak bola.

  1. Learning to Train (usia 9-12 tahun)

Para siswa diajarkan bagaimana mereka berlatih dengan benar, dan di beri penjelasan berbagai manfaat dari latihan yang mereka jalani. Mulai dari pemanasan sebelum latihan yang baik hingga manfaat pendinginan setalah latihan. Begitupun dengan berbagai peraturan permainan sepak bola.

  1. Training to Train (usia 12-16 tahun)

Waktu dimana para siswa untuk menerapkan berbagai latihan. Seperti latihan fisik, teknik, taktik dan juga mental.

  1. Trining to Compete (usia 16-18 tahun)

Siswa mulai mengikuti berbagai kompetisi untuk menambah pengalaman dan jam terbang dalam suasana kompetisi tanpa dibebani target juara.

  1. Training to Win (usia 18 keatas)

Fase terakhir dimana para siswa dilatih untuk menjuarai di berbagai kompetisi.

Tulisan @fahmihasannn Tentang Tata Kelola Prestasi Sepak Bola

Tulisan @fahmihasannn Tentang Tata Kelola Prestasi Sepak Bola

Di era kepengurusan PSSI baru dibawah kepemimpinan Edy Rahmayadi ada itikad yang baik untuk pembinaan atlet di beberapa kelompok umur, terlihat ketika PSSI mengeluarkan aturan di kasta tertinggi untuk setiap klub menyisihkan tempat untuk para pemain dibahwa usia 23 tahun. Kemudian akan mulai digelarnya kompetisi U-19. Tentu hal tersebut harus disambut baik oleh seluruh pecinta sepak bola. Namun seluruh insan olahragapun baiknya ingat terhadap teori LTAD diatas, harus ada target prestasi yang jelas di setiap kelompok umur, jangan sampat usia dini tapi dipaksakan berprestasi karena akibatnya akan fatal, seperti mandeknya fisiologi mereka yang membuat mereka tidak mampu mencapai golden age. Semoga dengan tata kelola target prestasi yang baik akan membuat prestasi sepak bola kita merata diberbagai kelompok umur hingga senior, seperti tata kelola prestasi yang dilakukan Jerman hingga kini.

Penulis:           Fahmi Hasan Affandi

                        Magister Sport Science, ITB

                        Dosen Luar Biasa, ITB

                        Kolumnis Opini Olahraga, Pikiran Rakyat

Follow MeFollow on FacebookTweet about this on TwitterFollow on Google+Pin on PinterestFollow on LinkedIn

Arista Budiyono

Tukang Ketik at Infosuporter
Kalau twitter @infosuporter
Kalau website Infoolahraga.net
jangan lupa
Bagikan Berita Ini

Related Posts

About The Author

Add Comment