Soal Sepakbola Gajah, #SOS Tuntut PSSI Ungkap Dalangnya

Bagikan Berita Ini

Jakarta – 27 Januari 2017 – Kabar mengejutkan datang dari kantor PSSI, di Gran Rubina Bussiness Park, Jalan Rasuna Said, Kavling C-22, Jakarta Selatan. Berdasarkan hasil rapat Komite Eksekutif (Exco) PSSI, 10 Januari 2017, Ketua Umum PSSI, Letnan Jenderal Edy Rahmayadi, mengeluarkan Surat Keputusan bernomor 021/KEP/PK-PSSI/I/2017 tentang Peninjaun Kembali (PK) terhadap hukuman yang dijatuhkan Komite Disiplin PSSI bernomor 213/DU/KD-PSSI/XI/2014 terkait tragedi sepak bola gajah (TraGajah) yang melibatkan PSS Sleman dan PSIS Semarang dalam laga terakhir Babak Delapan Besar Grup N Divisi Utama 2014 di Sasana Krida Akademi Angkatan Udara, Yogyakarta, Rabu, 26 Oktober 2016.

Tolal, 23 dari 50 pemain, pelatih dan ofisial terhukum (24 PSIS dan 26 PSS), mendapatkan pengampunan melalui SK Peninjauan Kembali Ketua Umum PSSI tersebut. Rinciannya 10 personel dari PSS, yakni Heri Kiswanto, Edi Broto, Herwin Sirajudin, Anang Hadi, Mudah Yulianto, Eko Setiawan, Ridwan Awaludin, Moniaga Bagus, Wahyu Gunawan, dan Marwan Muhammad. Sementara 13 personel dari PSIS, yakni Eko Riyadi, Setiawan Londo, Budi Cipto, Vidi Hasiholan, Syahrul Anam, Eli Nasoka, Taufik Hidayat, Andi Rohmad, Frangky, Sunar Sulaiman, Saptono, Ronald Fagundez, dan Julio Alcorse.

Tentu, ini kabar gembira bagi mereka yang mendapatkan pengampunan karena bisa kembali berkiprah di sepak bola nasional. Tapi, bagaimana nasib 27 pemain lain yang statusnya masih menggantung?

“Niat PSSI cukup baik. Memberikan pengampunan kepada sejumlah pemain, pelatih dan ofisial yang terlibat sepak bola gajah agar bisa kembali mengais rezeki di sepak bola. Tapi, cara pengambilan putusannya sangat tidak transparan dan mengundang tanda tanya. Selain dadakan, juga tanpa proses rekonstruksi dan pengungkapan fakta sesungguhnya. Tak ada penjelasan secara gamblang kenapa sebagian mendapatkan pengampunan, sementara sebagian lagi tidak,” kata Akmal Marhali, Koordinator Save Our Soccer #SOS. “PSSI seperti hanya menyapu lantai yang kotor, tanpa mengepelnya. Artinya, masih banyak debu yang tertinggal di lantai karena membersihkannya tidak total,” Akmal menambahkan.

#SOS meminta PSSI serius menangani dan mengurai akar masalah sepak bola gajah secara tuntas. Maklum, kasus ini bukan sembarangan. Dagelan sepak bola tersebut menjadi sorotan dunia. Media internasional seperti Eurosport, Daily Mail, dan The Guardian. serta Media Singapura, The New Paper, mengangkatnya sebagai tragedi penistaan sepak bola. Pasalnya, lima gol yang terjadi di pertandingan yang dimenangkan PSS 3-2 itu dilakukan melalui gol bunuh diri yang disengaja. Kedua tim berusaha kalah agar tak bertemu Pusamania Borneo FC, runner-up Grup P, di semifinal yang disebut-sebut sudah pasti dapat satu tiket promosi ke Indonesia Super League (ISL). Memalukan!

“PSSI harus menemukan dan mengungkap dalangnya serta memberikan hukuman seberat-beratnya. Bentuk Tim Pencari Fakta (TPF) dan rekonstruksi ulang kasus sepak bola gajah,” kata Akmal. “Jangan sampai permasalahan ini dibiarkan karena akan jadi preseden buruk. Jangan sampai kedepannya ada yang beranggapan sepak bola gajah itu sesuatu yang boleh. Dan, kalau pun dapat hukuman akan dengan mudah diberikan pengampunan,” Akmal menambahkan.

Untuk mengurai kasus sepak bola gajah. Ketua Umum PSSI, Edy Rahmayadi, bisa menugaskan Departement Sport Intelegent, Fary Djemy Francis, dan Departemen Kepatuhan dan Integritas, John Fresly Hutahayan, yang baru saja dilantik, Jumat (27/1) untuk menuntaskannya. Membentuk Tim Pencari Fakta, melakukan rekonstruksi ulang, dan meminta keterangan yang sebenar-benarnya kepada para pelaku untuk menemukan dalang atau aktor di balik layar.

Dari hasil temuan Lembaga Penelitian dan Pengembangan (Litbang) SOS, ada beberapa kejanggalan dari vonis yang dijatuhkan Komdis PSSI. Pertama, terkait gol bunuh diri. Disebutkan bahwa pencetak gol bunuh diri untuk PSIS adalah Komaedi,  Fadli Manan, dan Saptono. Sementara dari kubu PSS Hermawan Putra Jati, dan Riyono. Sejatinya, bukan Fadli Manan yang melakukan gol bunuh diri, tapi Taufik Hidayat. Ketika itu, Inspektur Pertandingan (IP) salah catat dan berjanji akan memperbaikinya. Sayang, Komdis tutup mata. Sementara Fadli sudah terlanjur dijanjikan akan diringankan hukumannya dengan mengakui saja di atas kertas bermaterai. Bahkan, ada oknum yang mengaku dekat dengan PSSI yang berusaha meyakinkan Fadli akan diringankan hukumannya dengan menyetorkan uang Rp 50 juta.

Selain Fadli, banyak pemain juga yang mengaku hukuman yang dijatuhkan sangat tidak memenuhi azas keadilan. Mereka tak diberikan kesempatan menjelaskan secara transparan. Jangan sampai juga pengampunan sebagian pemain yang dilakukan bukan atas azas keadilan, tapi karena factor like dan dislike.

“Keseriusan PSSI untuk menuntaskan tragedy bola gajah dinanti masyarakat sepak bola Indonesia. Ini juga bisa menjadi pijakan kesungguhan PSSI untuk melakukan reformasi sepak bola Indonesia sekaligus menjadikan PSSI profesional dan bermartabat seperti visi dan misi Ketua Umum PSSI,” Akmal menegaskan.

Menurut #SOS kasus sepak bola gajah ini harus diurai bukan hanya yang terjadi di lapangan. Tapi, harus juga diungkap dari sebelum pertandingan kenapa kasus ini sampai terjadi. Berdasarkan temuan #SOS sebelum pertandingan, kedua tim sudah takut bertemu Pusamania Borneo FC.

“Ini semua harus diungkap dengan jelas dan terbuka agar tak terulang di kemudian hari. Mereka yang ternyata tak bersalah harus diputihkan dan dibersihkan namanya,” Akmal menjelaskan. “Ini penting agar tak ada beban buat pengurus PSSI. Jangan sampai seperti kasus Mursyid Effendi di Piala Tiger 1998. Dia dihukum dan harus melupakan sepak bola, tapi actor intelektualnya bebas. Rekontruksi ulang demi keadilan dan kebenaran harus dilakukan,” Akmal menambahkan.

Follow MeFollow on FacebookTweet about this on TwitterFollow on Google+Pin on PinterestFollow on LinkedIn

Arista Budiyono

Tukang Ketik at Infosuporter
Kalau twitter @infosuporter
Kalau website Infoolahraga.net
jangan lupa
Bagikan Berita Ini

Related Posts

About The Author

Add Comment