Riedl Pun Tak Punya KITAS?

Setelah mayoritas Pemain Asing yang Tak punya KITAS dan juga pelatih TSC yang Lisensinya tak sesuai. Kini muncul kabar soal pelatih Timnas Indonesia yang tidak memiliki KITAS. Berikut rilis Save Our Soccer yang dikirimkan ke redaksi Infoolahraga.net 

Temuan #SOS : Dan, Pelatih Timnas Pun Tak Punya Izin Kerja

Jakarta – 8 September 2016 – Bukan hanya pemain/pelatih asing di Indonesia Soccer Championship (ISC) A yang tak memiliki izin kerja dan Kartu Izin Tinggal Sementara/Terbatas (Kitas). Permasalahan ini juga merempet ke pelatih tim nasional Indonesia. Departemen Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Save Our Soccer #SOS menemukan bukti dan fakta bahwa tiga pelatih asing yang memimpin  “Tim Merah Putih” saat menang 3-0 saat uji coba dengan Malaysia di Stadion Manahan, Solo (6/9) juga tak memiliki izin kerja dan KITAS.

Alfred Riedl yang berkebangsaan Austria dengan paspor bernomor U 0924628 dan dikontrak PSSI per 1 Juni 2016 sampai 31 Desember 2016 belum memiliki izin kerja serta KITAS. Hal sama dialami asistennya, Wolfgang Pikal dengan nomor paspor U0221903 dan Hans Peter Schaller (Paspor P7629566), yang juga berkebangsaan Austria dan terikat kontrak per 1 Agustus 2016.  Ketiganya melanggar peraturan negara karena KITAS adalah syarat wajib mempekerjakan tenaga asing sesuai Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor 12 Tahun 2013 dan Undang Undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang imigrasi.

“Sangat disesalkan, PSSI selaku induk organisasi sepak bola Indonesia yang dalam Statuta-nya dijelaskan tunduk dan patuh terhadap Undang Undang Negara justru melakukan pelanggaran.  Bagaimana anggotanya (klub) mau taat aturan bila induknya justru melakukan melanggar hukum negara. Ini kelalaian yang sangat menyedihkan,” kata Akmal Marhali, Koordinator Save Our Soccer #SOS.

Riedl Pun Tak Punya KITAS?

Riedl Pun Tak Punya KITAS?

Sebelumnya PT Gelora Trisula Semesta (GTS) selaku operator ISC A telah melakukan pembiaran terhadap pelanggaran Regulasi dan Manual ISC yang telah mereka buat terkait penggunaan pemain/pelatih asing. Dalam pasal 32 ayat 1, tercantum persyaratan keimigrasian yang harus dipenuhi pemain asing di ISC 2016 seperti paspor, Kartu Izin Tinggal Sementara (KITAS), dan salinan kontrak kerja pemain asing. Dalam Pasal 33 tentang status pemain, tercantum pula: “GTS berhak melakukan verifikasi terhadap dokumen yang dipersyaratkan terhadap proses pendaftaran pemain. Ketidaklengkapan dokumen dari Pemain akan mengakibatkan Pemain yang bersangkutan tidak akan disahkan oleh GTS.”

Tapi, fakta di lapangan PT GTS membiarkan bahkan mengesahkan dan memberikan “lampu hijau” kepada pemain/pelatih yang tak memiliki izin kerja dan KITAS bermain di ISC A putaran pertama. Dan, anehnya pembiaran terhadap pelanggaran dilakukan juga di putaran kedua.  Para pemain asing yang baru dikontrak klub untuk tampil di putaran kedua ISC A yang dimulai pada 2 September 2016 mayoritas sudah ditampilkan klubnya. Padahal, mereka belum memiliki KITAS. Sebagai contoh Marcio teruel (Arema Cronus), Choi Hyun Yeon,          Hedipo Gustavo Da Conceicao, Romeo Filipovic (Persela Lamongan),  Rodrigo Antonio Lombardo Tosi (Persija), Muamer Svaraka (Semen Padang), Zoran Knezevic, dan Daniel Heffernan (Bali United). “Ini pelanggaran yang disengaja. Bukan hanya pelanggaran terhadap regulasi yang dibuat, tapi juga pelanggaran terhadap hukum negara. Harusnya GTS menjadi garda terdepan dalam menegakkan aturan. Bukan malah melegalkan yang illegal,” kata Akmal. “

 

Benar, Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) lewat surat yang ditandatangani Menpora Imam Nahrawi bernomor S.2777/MENPORA/DIV/IX/2016 tertanggal 6 September 2016 telah memberikan batas waktu sampai tujuh hari agar PT GTS bersama klub segera mengurus izin kerja dan KITAS pemain/pelatih asing. Selama itu, pemain/pelatih yang tak punya izin kerja tidak boleh dimainkan. “Besok, Jumat (9/9), pekan ke-19 akan kembali digelar. Peringatan dari Menpora harus dikawal. Jangan sampai sebatas peringatan normatif dan tetap dilanggar. Cita-cita reformasi tata kelola sepak bola nasional jangan sampai hanya sebatas slogan,” Akmal mengungkapkan.

Selama putaran pertama, tercatat 82 pemain/pelatih asing yang keluar masuk ambil bagian di ISC A. Kini, di putaran kedua, berdasarkan data yang dimiliki #SOS sampai 6 September 2016, ada 26 pemain asing baru yang direkrut klub. Plus, tentunya, tiga pelatih asing tim nasional. Berdasarkan aturan ketenagakerjaan pekerja asing berkewajiban membayar  Kompensasi Penggunaan Tenaga Kerja Asing (KPTKA) yang nilainya 100 dolar AS per bulan.

Artinya, bila pemain/pelatih asing dikontrak setahun mereka berkewajiban membayar 1200 dolar AS. “Di putaran pertama ISC, #SOS mencatat lebih dari Rp 500 juta negara dirugikan akibat pembiaran terhadap pelanggaran aturan izin kerja dan KITAS. Ini bukan nilai yang sedikit,” kata Akmal. “Di putaran kedua #SOS berharap semua aturan ditegakkan dengan sebenarnya dan sejujurnya. BOPI sebagai kepanjangan pemerintah untuk urusan olahraga professional harus pro aktif menegakkan aturan negara. Jangan lagi membiarkan pelanggaran,” Akmal menegaskan. ***

Follow MeFollow on FacebookTweet about this on TwitterFollow on Google+Pin on PinterestFollow on LinkedIn

Arista Budiyono

Tukang Ketik at Infosuporter
Kalau twitter @infosuporter
Kalau website Infoolahraga.net
jangan lupa

Latest posts by Arista Budiyono (see all)

Related Posts

About The Author

Add Comment