Momentum Tepat Untuk Menjalankan Kompetisi

Bagikan Berita Ini

Sudah hampir satu tahun sepak bola nasional vakum dari kompetisi, baik dari kasta tertinggi maupun yang berada dibawahnya. Vakumnya kompetisi yang diadakan dibawah PSSI itu terjadi karena pembekuan PSSI yang dilakukan oleh Kemenpora, salah satu alasannya karena ada beberapa tim yang dianggap dikelola tidak memenuhi standar profesional, kemudia ada juga isu yang menyebutkan adanya pengaturan skor, lalu masih banyaknya keributan yang terjadi di beberapa pertandingan. Setelah vakumnya kompetisi, dunia sepak bola kita diisi oleh berbagai turnamen ‘tarkam’ yang hanya berjalan beberapa bulan bahkan beberapa minggu saja. Jika kita menghitung ada berapa pemain yang terakhir berlaga di kompetisi kasta tertinggi ikut bermain di berbagai turnamen, pastilah akan banyak yang terlibat. Hal itu terjadi karena hanya sebagia kecil dari para pesepak bola kita yang mempunyai pekerjaan diluar dunia olahraga, dan untuk menyambung hidup mau tidak mau mereka harus tetap bermain sepak bola di berbagai turnamen selagi masih belum jelasnya kapan akan berjalan kompetisi resmi berjalan kembali.

Diluar dari berbagai usaha rujuknya Kemenpora dan PSSI, ada beberapa turnamen yang bisa dibilang besar, indikatornya pun bisa dilihat dari kontestan yang berlaga mayoritas dan ada juga yang full dari tim yang berlaga di kompetisi Indonesia Super League, dan indikator selanjutnya adalah disiarkannya turnamen tersebut di televisi nasional. Pertama turnamen yang berjalan adalah Piala Presiden, turnamen yang di ikuti oleh 16 tim, turnamen yang diadakan oleh Mahaka Entertaimen ini telah direstui oleh BOPI (Badan Olahraga Profesional Indonesia), bisa dibilang pada masa itu turnamen ini yang paling ‘legal’. Turnament yang dikabarkan menghabiskan dana 40 miliar tersebut pun digadang-gadang sebagai turnamen yang bersih dari pengaturan skor, dan profesionalitas tim pengelola yang jelas, kemudian hadiah yang tidak ditunggak. Dan akhirnya turnamen ini diakhiri dengan baik dengan Persib sebagai juaranya, dan total hadiah sebesar 26,5 miliar ini terdiri dari 3 miliar untuk juara 1, kedua mendapat 2 miliar, ketiga mendapat 1 miliar, dan keempat mendapat 500 juta, klub yang masuk delapan besarpun mendapat dana 250 juta, belum lagi para pemain yang mengikuti sampai penyisihan group mendapatkan 500 juta sebagai match fee, dan benar saja seluruh hadiah itu sudah diterima sebelum batas waktu yang dijanjikan. Turnamen kedua adalah Piala Jendral Sudirman, turnamen yang dicanangkan oleh panglima Tentara Nasional Indonesia ini untuk menyemarakan hari jadi TNI ke 70. Kejuaraan tersebut akhirnya di ikuti oleh 15 klub yang mayoritas klub Indonesia Super League, berlangsung selama kurang lebih 4 bulan, dimulai november 2015 hingga januari 2016. Turnemen yang digelar atas usulan panglima Gatot ini diharapkan menghidupkan kembali gairah sepak bola ditengah kosongnya kompetisi yang ada di indonesia. Berjalannya waktu, turnamen ini bisa dibilang sangat aman dari segi penonton maupun keamanan selama pertandingan, hingga akhirnya Mitra Kukar keluar sebagai juara setelah melewati laga final yang digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Tidak ada keamanan yang spesial seperti turnamen Piala Presiden, keamanan cukup terkoordinir dengan baik dan rapih.

Dari sekian banyak turnamen yang diselenggarakan oleh berbagai pihak, para pemainpun sadar turnamen selama ini yang mereka jalani tidak menguntungkan dan tidak memberi kejelasan untuk mereka. Melalui Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia, yang di pelopori oleh beberapa pesepak bola ternama negeri ini seperti Bambang Pamungkas, Ponaryo Astaman, Kurniawan Dwi Yulianto, Bima Sakti dan beberapa pemain lainnya menyuarakan bahwa mereka jelas sangat menolak turnamen yang akan digelar dan mendorong untuk segera digelarnya kompetisi yang profesional. Kasarnya mereka siap ‘memboikot’ turnamen yang di gelar dengan harapan lahirnya kompetisi.
Dari serangkaian kejadian yang telah dilewati seharusnya para stake holder sepak bola negara ini bisa belajar bagaimana cara menjalankan suatu kejuaraan tanpa adanya pengaturan skor, ada sharing profit yang jelas antara klub, promotor dan sponsor, kemudian menjalin pertandingan berjalan secara aman. Karena hal tersebut sudah bisa kita nikmati dari gelaran yang telah diadakan sebelumnya, baik di Piala Presiden dengan ‘kesejahtraan’ yang diberikan kepada para klub, dan klub yang berlagapun dinyatakan profesional karena telah mendapat restu dari BOPI, kemudia bebasnya pengaturan skor, lalu dari Piala Jendral Sudirman bisa belajar bagaimana setiap pertandingan dapat disaksikan dengan tenang karena tidak adanya keributan yang terjadi. Dan yang terakhir dengan adanya desakan dari para pemain untuk memboikot turnamen, meskipun sebenarnya hal tersebut mempunyai tujuan yang baik, karena pada intinya diharapkan segera ada kedamaian antara PSSI dan Kemenpora yang nantinya diharapkan Indonesiapun lepas dari sanksi yang dijatuhkan oleh FIFA. Hal tersebut bisa menjadi momentum yang tepat untuk para stake holder duduk bersama dan membangun kembali kompetisi demi kebaikan dan kemajuan sepak bola indonesia.

PENULIS : Fahmi @fahmihasannn Affandi – Magister Sport Science, ITB 2014 – Founder FIT & CO.

Follow MeFollow on FacebookTweet about this on TwitterFollow on Google+Pin on PinterestFollow on LinkedIn

Arista Budiyono

Tukang Ketik at Infosuporter
Kalau twitter @infosuporter
Kalau website Infoolahraga.net
jangan lupa
Bagikan Berita Ini

Related Posts

About The Author

Add Comment