Lima Alasan Yang Membuat Indonesia Gagal

Bagikan Berita Ini

Lima Alasan Yang Membuat Indonesia Gagal – Diambil dari Facebook Mas Broto Happy

Sedih rasanya melihat tim Indonesia terhenti lebih cepat di penyisihan grup perebutan Piala Sudirman 2017 di Gold Coast, Australia. Sebuah catatan kelam bagi skuad Merah-Putih di ajang perebutan lambang supremasi bulutangkis beregu campuran dunia.

Inilah untuk kali pertama pasukan Merah-Putih gagal melaju ke babak perempatfinal perebutan piala yang didedikasikan untuk menghormati jasa-jasa mendiang Sudirman, tokoh bulutangkis Indonesia. Ini hasil pahit, sekaligus memilukan hati. Sejarah terburuk ditorehkan di Negeri Kanguru.

Kekalahan memalukan 1-4 dari India di laga pembuka, memang menjadi bencana. Inilah kekalahan pertama tim Sudirman Indonesia dari India. Terakhir, dalam kejuaraan serupa yang dihelat tahun 2013 di Kuala Lumpur, Malaysia, India kita sikat 1-4.

Kendati di laga pamungkas menang 3-2 atas Denmark, posisi Indonesia tetap tidak selamat. Kita jadi juru kunci. Meski nilainya sama dengan Denmark dan India, yaitu masing-masing 1, jumlah match-nya kita kalah. Denmark 6-4, yang merupakan akmulasi dari kemenangan 4-1 atas India, ditambah hasil 2-3 saat ditekuk Indonesia.

Sementara India, match-nya 5-5, yang diperoleh dari kalah 1-4 lawan Denmark, dan menang 4-1 atas Indonesia. Skuad Merah-Putih sendiri cuma mengoleksi 4-6, yang didapat dari kalah 1-4 dari India, dan menang 3-2 atas Denmark.

Kenapa kita kalah? Meskipun kita berdebat tujuh hari tujuh malam sampai mulut berbusa-busa, tidak akan mengubah hasil akhir. Dalam ajang Piala Sudirman 2017 yang berlangsung pada 21-28 Mei di Carrara Sport and Leisure Centre, Indonesia gagal ke perempatfinal dan gagal pula memenuhi target maju ke semifnal.

Dari kacamata saya, setidaknya ada lima alasan yang membuat kita gagal. Pertama, kita kurang fokus dan serius saat menghadapi India. Belum menjajal kekuatan Pusarla Venkata Shindu dkk., fokus tim Garuda sepertinya hanya ditujukan menghadapi Denmark. Ibarat meniti anak tangga, kita sudah memikirkan anak tangga ketiga atau keempat, tanpa melihat anak tangga pertama atau kedua. Wajar kalau terjatuh!

Kedua, Indonesia terlalu percaya diri. India sepertinya dipandang sebelah mata. Padahal, sejatinya kubu pelatih, manajer tim, dan ketua rombongan Indonesia, sadar bahwa India saat ini sangat kuat. Terbukti mereka bisa merepotkan Denmark di pertandingan awal.

Ketiga, strategi dalam menurunkan susanan pemain ketika lawan India juga salah besar. Perjudian yang harus dibayar sangat mahal. Terbukti, tim yang ditampilkan di laga pembuka, bukan kekuatan terbaik. Salah satunya, kenapa memilih Tontowi Ahmad/Gloria Emanuelle Widjaja dan bukan Praveen Jordan/Debby Susanto yang ditampilkan di partai pembuka dan sangat menentukan?

Owi/Glo sejatinya adalah pasangan alternatif, setelah Liliyana Natsir cedera. Performa mereka juga tidak menggembirakan, terbukti mereka nggak moncer saat dikirim ke sejumlah turnamen. Bahkan, saat laga simulasi pun, Owi/Glo kalah lawan Ronald Alexander/Debby Susanto!

Padahal, pertandingan lawan India, adalah laga penentuan. Kalau menang, tiket ke perempatfinal sudah di tangan. Seharusnya, segala daya dan upaya dikonsentrasikan lebih dulu saat bertemu musuh pertama ini.
Alasan keempat, dari awal tim ini sebenarnya nggak solid dan kompak. Faktor esprit de corps atau jiwa korsa, kurang kuat. Ini bisa dilihat saat digelar laga simulasi di Pelatnas Cipayung, 13 Mei silam. Para pemain, sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Padahal, mereka sebenarnya sudah dibagi dalam tim Garuda dan Elang.

Pada awalnya, mereka duduk berkelompok bersama timnya masing-masing. Namun, setelah partai pertama yang mempertandingkan ganda putra, para pemain tidak lagi duduk di bangku tim untuk terus mendukung rekan setimnya bertanding. Mereka bubar duluan, tidak peduli bagaimana perjuangan rekannya yang bertanding di partai selanjutnya.

Yang kelima, para pemain lupa akan tugas utamanya. Mereka sebenarnya dikirim ke Gold Coast semata-mata hanya untuk menjaga reputasi Merah-Putih sebagai negara kuat bulutangkis. Namun, mereka alpa. Ketika tugas belum juga dilakoni, mereka malah bersenang-senang dahulu dengan acara bermain-main di pantai.

Memang tidak ada larangan untuk menikmati keindahan di tempat baru. Tetapi, hal itu sebenarnya bisa dilakukan setelah perjuangan berakhir. Jadi konsentrasi dan fokus hanya ditujukan untuk perebutan Piala Sudirman lebih dulu, dan bukan yang lain.

Coba, tanyakan kepada Susy Susanti yang kini menjadi manajer tim. Sebagai contoh, dulu saat tampil di Olimpiade Barcelona 1992, karena ingin fokus dan konsentrasi untuk merebut medali emas, dia tidak pernah ngeluyur kemana-mana. Hari-harinya hanya dihabiskan di perkampungan atlet.

Nasi telah menjadi bubur. Indonesia gagal di perebutan Piala Sudirman 2017. Semoga cambuk kecil ini bisa menggugah para pemain, pelatih, dan pengurus PBSI untuk bangkit dan tidak kejeblos kembali. Tunjukkan bulutangkis Indonesia masih bertaji di ajang yang lain. Bravo bulutangkis Indonesia!

Lima Alasan Yang Membuat Indonesia Gagal

Lima Alasan Yang Membuat Indonesia Gagal

Follow MeFollow on FacebookTweet about this on TwitterFollow on Google+Pin on PinterestFollow on LinkedIn

Arista Budiyono

Tukang Ketik at Infosuporter
Kalau twitter @infosuporter
Kalau website Infoolahraga.net
jangan lupa
Bagikan Berita Ini

Related Posts

About The Author

Add Comment