Kolom – Menanti Ujung dari Kisruh Sepak Bola Nasional

Sudah hampir satu tahun kisruh sepak bola nasional seolah tidak ada ujungnya, akhir-akhir ini pemberitaan mulai ramai kembali ketika ada pertemuan antara Presiden Joko Widodo, Agum Gumelar sebagai  ketua tim Ad-Hoc, dan Imam Nahrawi sebagai menteri pemuda dan olahraga.

Dari hasil pertemuan tersebut menghasilkan berbagai pemberitaan yang terlempar begitu bebas ke masyarakat luas, ada dari pihak Agum Gumelar memberitakan bahwa PSSI akan segera aktif kembali sesuai interuksi Presiden, berbeda hal ketika meminta konfirmasi dari pihak Kemenpora yang mengatakan harus dikaji kembali tentang pencabutan pembekuan PSSI yang notabennya belum pasti segera dicabut pembekuan tersebut seperti yang diinformasikan dari pihak Agum Gumelar.

Sebelum adanya pertemuan tersebut dari pihak PSSI telah berusaha untuk mengajukan gugatan kepada Pengadilan Tata Usaha Negara terhadap keputusan Kemenpora tentang SK pembekuan PSSI. Dari hasil gugatan tersebut memenangkan PSSI dan SK pembekuan dianjurkan untuk segera dicabut, namun ternyata kegaduhan berlanjut disaat pihak Kemenpora mengajukan banding, hingga banding pun ditolak tetap belum ada keputusan dari proses perkara hukum yang berkepanjangan tentang kejelasan nasib PSSI dan sepak bola negera kita.

Salah satu dampak dari pembekuan itu membuat kita tidak bisa menjalankan kompetisi resmi yang diakui oleh FIFA baik di dalam mapupun di luar negeri, salah satu alasannya karena permasalahan yang ada dalam Kompetisi itu sendiri, seperti ada beberapa tim yang dianggap dikelola tidak memenuhi standar profesional, kemudia ada juga isu yang menyebutkan adanya pengaturan skor, lalu masih banyaknya keributan yang terjadi di beberapa pertandingan.

Setelah vakumnya kompetisi, dunia sepak bola kita diisi oleh berbagai turnamen ‘tarkam’ yang hanya berjalan beberapa bulan bahkan beberapa minggu saja. Diluar dari berbagai usaha rujuknya Kemenpora dan PSSI yang berlarut, ada beberapa turnamen yang bisa dibilang besar, indikatornya pun bisa dilihat dari kontestan yang berlaga mayoritas dan ada juga yang full dari tim yang berlaga di kompetisi Indonesia Super League, dan indikator selanjutnya adalah disiarkannya turnamen tersebut di televisi nasional. Pertama turnamen yang berjalan adalah Piala Presiden, turnamen yang di ikuti oleh 16 tim, turnamen yang diadakan oleh Mahaka Entertaimen ini telah direstui oleh BOPI (Badan Olahraga Profesional Indonesia), bisa dibilang pada masa itu turnamen ini yang paling ‘legal’.

Turnament yang dikabarkan menghabiskan dana 40 miliar tersebut pun digadang-gadang sebagai turnamen yang bersih dari pengaturan skor, dan profesionalitas tim pengelola yang jelas, kemudian hadiah yang tidak ditunggak. Dan akhirnya turnamen ini diakhiri dengan baik dengan Persib sebagai juaranya, dan total hadiah sebesar 26,5 miliar ini terdiri dari 3 miliar untuk juara 1, kedua mendapat 2 miliar, ketiga mendapat 1 miliar, dan keempat mendapat 500 juta, klub yang masuk delapan besarpun mendapat dana 250 juta, belum lagi para pemain yang mengikuti sampai penyisihan group mendapatkan 500 juta sebagai match fee, dan benar saja seluruh hadiah itu sudah diterima sebelum batas waktu yang dijanjikan.

Kisruh Sepak Bola Nasional

Kisruh Sepak Bola Nasional

Turnamen kedua adalah Piala Jendral Sudirman, turnamen yang dicanangkan oleh panglima Tentara Nasional Indonesia ini untuk menyemarakan hari jadi TNI ke 70. Kejuaraan tersebut akhirnya di ikuti oleh 15 klub yang mayoritas klub Indonesia Super League, berlangsung selama kurang lebih 4 bulan, dimulai november 2015 hingga januari 2016. Turnemen yang digelar atas usulan panglima Gatot ini diharapkan menghidupkan kembali gairah sepak bola ditengah kosongnya kompetisi yang ada di indonesia. Berjalannya waktu, turnamen ini bisa dibilang sangat aman dari segi penonton maupun keamanan selama pertandingan, hingga akhirnya Mitra Kukar keluar sebagai juara setelah melewati laga final yang digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Tidak ada keamanan yang spesial seperti turnamen Piala Presiden, keamanan cukup terkoordinir dengan baik dan rapih.

Jika mengingat kembali awal mula pembekuan terjadi karena Kemenpora ingin meluruskan segala penyimpangan yang terjadi dari segi tata kelola kompetisi, dengan berjalannya berbagai turnament yang telah berlangsung selama jeda pembekuan PSSI, sudah saatnya Kementrian yang di pimpin politisi Partai Kebangkitan Bangsa ini memberikan kesempatan kepada PSSI untuk menjalankan rada kompetisi dengan tetap dikawal atau dipantau oleh pihak Kemenpora. Perlu ada sikap tegas dan legowo dari kedua pihak untuk mengoreksi kekurangan dan tegas terhadap kebenaran, karena pada intinya diharapkan segera ada kedamaian antara PSSI dan Kemenpora yang nantinya diharapkan Indonesiapun lepas dari sanksi yang dijatuhkan oleh FIFA dan kembali berlaga di berbagai even internasional untuk berprestasi. Hal tersebut bisa menjadi momentum yang tepat untuk para pemangku kebijakan untuk duduk bersama dan membangun kembali kompetisi demi kebaikan dan kemajuan sepak bola indonesia.

 

Penulis

Fahmi Affandi @fahmihasannn
Magister Sport Science, ITB 2014

Founder FIT & CO.

Follow MeFollow on FacebookTweet about this on TwitterFollow on Google+Pin on PinterestFollow on LinkedIn

Arista Budiyono

Tukang Ketik at Infosuporter
Kalau twitter @infosuporter
Kalau website Infoolahraga.net
jangan lupa

Latest posts by Arista Budiyono (see all)

Related Posts

About The Author

Add Comment